An Introduction To Enterprise Intelligence

Enterprise intelligence aims to assist corporations make higher decisions in relation to dealing with their businesses. Selain itu, TI juga diharapkan mampu memperlancar proses bisnis, sehingga pengambilan keputusan bisa lebih lancar, cepat, dan tepat. Bisnis informasi memang bisnis yang sangat menarik, sehingga tidak mengherankan bila mereka yang terjun dalam dunia ini begitu bervariasi.

Banyakperusahaan mempunyai investasi dalamotomatisasi sistim sebagai contoh Enterprise Useful resource Planning (ERP)dan mendapatkan hasil yang baik. Meski demikian, sudah menjadi hal wajar bila dalam kenyataan, pekerjaan CI sangat mirip dengan pekerjaan intelijen pemerintah.

Perusahaan dengan keuangan yang lebih stabil tentu akan mampu bertahan, sisanya bisa jadi akan terlibas persaingan. Biasanya, sistem ERP menggunakan atau terintegrasi dengan sistem relasional database. Cerita-cerita tentang bagaimana pentingnya operasi intelijen dari sebuah perusahaan yang berupaya membangkrutkan perusahaan saingannya dan kemudian mengakuisisinya sebenarnya agak jauh dari kenyataan.business intelligence

Misalnya, TI digunakan untuk membuat advertising and marketing information system. Dalam prakteknya, tidaklah mudah membangun sebuah unit riset dan pengembangan dalam sebuah perusahaan untuk cepat tanggap dalam merespon kebutuhan perusahaan. Masih di tahun yang sama, mereka membekali 1.000-an tenaga penjualnya dengan private digital assistant (PDA) untuk membantu proses pengiriman data penjualan per hari.business intelligence

Mengurangi duplikasi informasi pelanggan dengan sentralisasi database yang dapat diakses oleh semua pengguna. Jawabannya kerap melintas dari satu divisi ke divisi lain di perusahaan. Pada 2004 PT Bentoel Prima mengintegrasikan proses bisnisnya end to end dengan menerapkan aplikasi Enterprise Assets Planning (ERP).business intelligence

Bagi pelanggan ini akan memudahkan dan lebih cepat dalam memperoleh produk dan layanan yang ditawarkan. Jargon Enterprise Intelligence pertama kali dituturkan oleh Howard Dresner dari lembaga riset Gartner Group pada tahun 1989. Hal ini tak hanya meliputi kultur buyer centric, tetapi juga merambah ke faktor branding, periklanan, dan proses penjualan.